Oleh ; Dt. Tan Malaka VII | PkdpNews.Com ArtaSariMediaGroup
#BAGIAN 5 | Terakhir
DI BANYAK WILAYAH yang mempraktikkan budaya matrilineal—mulai dari suku Mosuo di Tiongkok hingga masyarakat Akan di Ghana—globalisasi membawa efek yang hampir sama: sistem garis keturunan perempuan melemah. Modernisasi menuntut mobilitas. Mobilitas menuntut individualisasi. Individualisasi melemahkan kepemilikan komunal. Ketika kepemilikan komunal runtuh, seluruh struktur matrilineal ikut goyah.
Minangkabau hampir pasti akan menghadapi tekanan yang sama. Tetapi apakah ia akan runtuh? Atau justru bertransformasi menjadi bentuk baru yang lebih sesuai dengan zaman?
Tidak ada satu pun antropolog yang berani memastikan. Namun tanda-tanda awalnya sudah terlihat.
—
#1. Rumah Gadang: Antara Simbol Identitas dan Kenangan Arsitektural
Jika ada satu bangunan yang menjadi metafora bagi masa depan matrilineal Minang, itu adalah rumah gadang.
Masih kokoh berdiri di banyak nagari—tetapi semakin sering kosong.
Perempuan Minang modern tidak lagi hidup dalam keluarga besar. Mereka bekerja di kota, mengurus keluarga inti, bersekolah di universitas, atau merantau seperti laki-laki. Rumah gadang masih menjadi tempat upacara adat, musyawarah, atau pulang basamo, tetapi tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari.
Dalam wawancara dengan beberapa perempuan perantau, muncul satu tema besar: rumah gadang kini seperti “museum hidup”—penting secara emosional, tetapi sulit menjadi tempat tinggal fungsional.
Jika rumah gadang kehilangan fungsinya sebagai pusat keluarga perempuan, akankah matrilineal bertahan?
Jawabannya bergantung pada apakah rumah gadang akan menemukan fungsi baru:
sebagai pusat komunitas, pusat adat, pusat spiritual, atau pusat pendidikan budaya.
Jika tidak, rumah gadang berisiko menjadi simbol kosong—cantik, tetapi rapuh.
—
#2. Mamak dalam Krisis Peran
Dulu, mamak adalah figur sentral dalam kehidupan anak kemenakan. Ia memberikan nasihat, menyelesaikan sengketa, mengatur perkawinan, mendidik keponakan laki-laki, dan mengajarkan adat. Namun struktur sosial modern telah mengubah hampir semuanya.
Ayah modern terlibat penuh dalam keluarga inti.
Keluarga inti terpisah dari keluarga suku.
Mamak menjadi tambahan, bukan pusat.
Banyak anak Minang bahkan tidak mengenal mamak mereka secara dekat.
Pertanyaannya bukan lagi “apa tugas mamak?”,
tetapi “apakah mamak masih diperlukan?”
Sebagian antropolog Minang justru berpendapat bahwa peran mamak tidak hilang—ia sedang bergeser. Dari figur paternal alternatif menjadi mediator—perantara antara keluarga inti dengan institusi adat. Dari pengasuh menjadi penjamin identitas suku. Dari pengambil keputusan menjadi penasihat moral.
Jika transformasi ini berhasil, mamak tetap relevan.
Jika tidak, peran mamak akan tinggal dalam pepatah dan upacara adat.
—
#3. Anak Gadang dan Beban yang Semakin Berat
Matrilineal sering dianggap sistem yang “menguntungkan perempuan”. Namun kenyataannya lebih kompleks. Dalam banyak keluarga, anak perempuan tertua memikul beban yang semakin berat:
* menjaga rumah gadang
* mengurus keluarga besar
* bertanggung jawab atas adat
* menjadi rujukan ekonomi ketika ada krisis
* menjaga martabat suku
Di era modern, beban ini bertentangan dengan tuntutan karier, pendidikan, dan mobilitas perempuan.
Beberapa perempuan Minang mengakui bahwa status sebagai “anak gadang” kini adalah kehormatan sekaligus tekanan. Mereka mencintai adat, tetapi terjebak antara tanggung jawab tradisional dan kehidupan modern yang menuntut fleksibilitas.
Jika peran perempuan menjadi terlalu berat, sistem matrilineal akan runtuh dari dalam.
—
#4. Merantau Laki-Laki: Tradisi yang Kehilangan Makna Asal
Merantau adalah institusi sosial Minangkabau yang paling terkenal di Indonesia. Tetapi banyak orang lupa bahwa merantau awalnya bukan pilihan individual. Ia adalah kebutuhan struktural: laki-laki tidak memiliki tanah pusaka, sehingga mereka harus mencari penghidupan di luar nagari.
Kini, merantau berubah menjadi fenomena nasional:
siapa pun bisa merantau, dari suku mana pun, laki-laki atau perempuan.
Jika merantau menjadi universal, maka fungsi sosialnya bagi Minang melemah.
Dalam beberapa desa di Tanah Datar dan Agam, antropolog mencatat gejala baru: laki-laki pulang kampung dengan identitas yang tidak lagi terikat ke suku. Mereka lebih terikat pada keluarga inti dan karier.
Ini adalah perubahan besar dalam struktur matrilineal.
Jika laki-laki Minang tidak lagi berfungsi sebagai perantau yang kembali membawa status, sumber daya, atau legitimasi adat, maka hubungan antara mamak, kemenakan, dan ayah akan berubah secara fundamental.
—
#5. Politik Lokal dan Masa Depan Adat
Salah satu faktor yang sering diabaikan adalah peran politik lokal—bupati, wali nagari, dan lembaga adat. Ada nagari yang sangat aktif memperkuat adat melalui:
* revitalisasi rumah gadang
* sekolah adat untuk anak muda
* digitalisasi silsilah suku
* pelatihan ninik mamak
* perlindungan tanah ulayat
Tetapi ada juga nagari yang terbawa arus komersialisasi, menjadikan adat sekadar festival budaya untuk pariwisata.
Jika politik lokal memilih jalur komodifikasi adat, matrilineal Minang akan menjadi “produk budaya” tanpa fungsi sosial.
Jika politik lokal memilih jalur revitalisasi struktural, matrilineal Minang akan lahir kembali dalam bentuk baru.
Di sinilah masa depan adat ditentukan—di tingkat lokal, bukan di universitas atau museum.
—
#6. Tiga Kemungkinan Masa Depan Matrilineal Minangkabau
Setelah menelusuri dinamika sejarah, spiritualitas, sosial, dan politik, masa depan matrilineal Minangkabau dapat diringkas dalam tiga skenario:
#A. Kebangkitan Baru (Revitalisasi Struktural)
Terjadi jika:
* rumah gadang diberi fungsi baru
* peran mamak ditata ulang
* perempuan memperoleh dukungan sosial
* tanah ulayat dikelola secara modern
* politik lokal memperkuat institusi adat
Ini skenario optimistik—dan sedang tumbuh di beberapa nagari.
#B. Ketahanan Tradisional (Stagnasi Terkendali)
Terjadi jika:
* adat bertahan untuk upacara
* rumah gadang tetap simbol identitas
* peran mamak tetap seremonial
* konflik adat diselesaikan secara ad hoc
Ini skenario yang paling mungkin dalam jangka pendek.
#C. Transisi ke Sistem Baru (Transformasi Senyap)
Terjadi jika:
* generasi muda meninggalkan struktur suku
* perempuan menolak beban adat
* rumah gadang tidak lagi dipakai
* tanah ulayat berubah fungsi
* peran mamak hilang dari praktik sehari-hari
Dalam skenario ini, matrilineal Minangkabau tidak hilang, tetapi berubah menjadi sistem keluarga bilateral seperti daerah lain.
—
Kesimpulan Besar: Sistem ini Tidak Akan Runtuh—Ia Akan Berubah
Matrilineal Minangkabau telah melewati:
* kolonialisme
* perang saudara
* Islamisasi
* modernisasi
* urbanisasi
* globalisasi
Tidak ada alasan ia akan runtuh dalam satu generasi.
Tetapi ada banyak alasan ia akan berubah.
Pertanyaannya bukan “apakah sistem ini akan hilang?”.
Pertanyaannya adalah:
“Dalam bentuk apa sistem ini akan bertahan?”
Dan jawaban itu tidak akan datang dari tambo, mamak, atau ulama semata.
Jawaban itu akan datang dari generasi perempuan dan laki-laki Minang yang hidup hari ini—di Padang, Bukittinggi, Pariaman, atau di rantau Jakarta, Kuala Lumpur, hingga Melbourne.
Jika mereka ingin sistem ini hidup, ia akan hidup.
Jika mereka ingin sistem ini berubah, ia akan berubah.
Jika mereka ingin sistem ini tetap, ia akan tetap.
Masa depan matrilineal Minangkabau bukan ditentukan oleh masa lalu.
Ia ditentukan oleh pilihan generasi yang sedang menulis bab berikutnya.
—
Oleh ; Dt. Tan Malaka VII | PkdpNews.Com ArtaSariMediaGroup
**Selesai.**
















